Terbongkarnya Situs Web Eksploitasi dan Pelecehan Seksual Anak Internasional Oleh Pemerintah Jerman

Pelecehan Seksual Terhadap Anak Kembali Terjadi di Jakarta Timur - Warta  Kota

Chen-wei.org – Kejaksaan Jerman berhasil membongkar system online untuk berbagi foto dan video clip yang menampilkan pelecehan seksual terhadap anak-anak, fading banyak anak laki-laki, yang diikuti lebih dari 400.000 anggota. Hal ini diungkapkan kejaksanaan pada Senin.

Situs dengan nama “Boystown” itu muncul sekitar Juni 2019 dan menyediakan online forum di mana para anggota dari seluruh dunia bertukar foto dan video clip yang menunjukkan anak-anak, termasuk balita, dilecehkan secara seksual. Di samping online forum, situs itu juga memiliki ruang obrolan di mana para anggota bisa terhubung satu sama lain dalam beragam bahasa.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin, jaksa federal Jerman menyebutnya sebagai “salah satu situs pornografi anak terbesar beroperasi dalam jaringan gelap”.

Dalam pernyataan itu juga disampaikan penangkapan tiga pria Jerman dilaksanakan pada pertengahan April. Ketiga pria ini mengelola situs tersebut dan pria keempat bertugas mengunggah ribuan foto.

” Keberhasilan penyelidikan ini memiliki pesan jelas: Mereka yang memangsa orang paling lemah tidak aman di mana word play here,” tegas Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer, pada Senin.

” Kami meminta pertanggungjawaban pelaku dan melakukan apapun yang memungkinkan dengan rasa kemanusiaan untuk melindungi anak-anak dari kejahatan menjijikkan seperti itu,” lanjutnya, dikutip dari The New york city Times, Selasa (4/5).

Selama satu dekade terakhir, Jerman memulai kampanye pemerintah mencakup unit khusus untuk menyelidiki kejahatan dunia maya sebagai upaya untuk memerangi pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Saat upaya keras berhasil mengungkap jaringan besar, puluhan ribu kasus baru pelecehan dilaporkan kepada pihak berwajib setiap tahun. Pekan lalu, parlemen mengesahkan UU yang memperberat hukuman penjara terhadap pelaku eksploitasi seksual atau pelecehan anak-anak.

Jaksa menyampaikan, tersangka pengelola situs “Boystown”, berusia 40 dan 49, ditangkap setelah penggerebekan di rumah mereka di Paderborn dan Munich. Tersangka ketiga, 58 tahun, tinggal di wilayah Concepcion, Paraguay, di mana dia ditangkap dan sedang menunggu ekstradisi.

Para tersangka menempatkan situs mereka dalam jaringan gelap, yang hanya bisa diakses oleh perangkat lunak tertentu dan digunakan oleh kriminal untuk berkomunikasi tanpa terdeteksi.

Di samping mengelola web server dan memberikan dukungan untuk para anggota, pengelola juga mengajarkan pengguna bagaimana berselancar di situs itu sembari meminimalisir risiko terdeteksi atau menarik kecurigaan.

Tersangka keempat, pria berusia 64 tahun, ditangkap di Hamburg atas dugaan mengunggah lebih dari 3.500 foto dan video clip pelecehan ke situs tersebut, sebagai salah satu anggota paling aktif situs tersebut. Dia menghadapi dakwaan kepemilikan situs dan berbagi bahan yang menggambarkan pelecehan seksual anak-anak.

Gugus tugas polisi Jerman menghabiskan waktu selama berbulan-bulan menyelidiki system tersebut, pengelolanya, dan pengguna bekerja sama dengan Europol, badan kepolisian Uni Eropa, dan otoritas penegak hukum dari Australia, Kanada, Belanda, Swedia, dan AS.

Tidak ada nama tersangka yang diidentifikasi dengan nama mereka, sejalan dengan UU privasi Jerman.

Bulan lalu, Parlemen Jerman mengesahkan UU yang memperluas kewenangan pihak berwenang untuk memburu pelaku pelecehan anak dan memperberat hukuman penjara bagi siapa pun yang terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak sampai maksimal 15 tahun.

Mereka yang terbukti menyebarkan eksploitasi dan pelecehan anak akan dihukum sampai 10 tahun penjara bertambah dua kali lipat dari hukuman sebelumnya.

Para anggota parlemen merujuk pada statistik kriminal yang menunjukkan peningkatan 65 persen kejahatan mencakup eksploitasi seksual anak atau pelecehan dari 2018 sampai 2019, sebagai bukti bahwa Jerman perlu memperkuat UU-nya untuk melindungi anak-anak.

Pekan lalu, mantan tim sepak bola nasional, Christoph Metzelder, dijatuhi hukuman percobaan 10 bulan penjara setelah dia dinyatakan bersalah atas 26 dakwaan kepemilikan dan berbagi foto bocah perempuan berusia di bawah 10 tahun yang mengalami pelecehan seksual parah.

Metzelder mengakui beberapa dakwaan dan meminta maaf kepada para korban, yang dijadikan pertimbangan hakim untuk mengurangi hukumannya.

Tetapi banyak orang Jerman, termasuk beberapa mantan rekan satu tim Metzelder, memprotes hukuman itu terlalu ringan.

” Saya tidak mengerti bagaimana hal itu seharusnya bertindak sebagai pencegah,” kata Lukas Podolski, yang merupakan anggota tim 2014 yang memenangkan Piala Dunia untuk Jerman, kepada surat kabar Bild.

” Siapa word play here yang melakukan dosa terhadap anak-anak harus dihukum dengan beban hukum yang penuh.”

Europol mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Komunitas pelanggar anak on-line di internet gelap menunjukkan ketahanan yang cukup besar dalam menanggapi tindakan penegakan hukum yang menargetkan mereka.”

“Reaksi mereka termasuk menghidupkan kembali komunitas lama, membangun komunitas baru, dan melakukan upaya yang kuat untuk mengatur dan mengelolanya,” lanjutnya, dikutip dari NBC Information.

Kasus ini adalah yang terbaru dari serangkaian panjang upaya international untuk menekan distribusi gambar pelecehan anak melalui internet gelap. Penggerebekan dan penangkapan lainnya dapat terjadi dalam upaya untuk menutup situs-situs serupa.

“Ada dan masih ada beberapa situs yang mirip dengan Boystown di jaringan gelap. Untuk alasan inilah penyelidikan akan terus dilakukan untuk mengidentifikasi orang-orang yang bertanggung jawab di balik situs jaringan gelap ini,” jelas Julia Bussweiler, jaksa penuntut umum, menanggapi pertanyaan dari NBC News.

Internet gelap telah lama dikaitkan dengan berbagai kriminalitas, termasuk penjualan obat-obatan terlarang dan peretasan informasi pribadi.

Pada januari lalu, Europol mengatakan telah berhasil menutup DarkMarket, yang dianggap sebagai salah satu yang terbesar di dunia dengan setengah juta anggota dan penjualan lebih dari 140 juta euro hingga saat ini.

Pemerintah Singapura Melarang WNA dari Bangladesh-Nepal-Sri Lanka Masuk

Waspada Covid, Singapura Larang Masuk Orang dari India

Chen-wei.org – Singapura akan menghentikan masuknya atau transportation pengunjung dengan riwayat perjalanan terbaru ke Bangladesh, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.

Seperti dilansir Channel Information Asia, Sabtu (1/5/2021), satgas multi-kementerian COVID-19 mengatakan bahwa larangan ini akan dimulai pada 2 Mei dan mencakup semua pemegang visa jangka panjang dan pengunjung jangka pendek yang telah berada di empat negara itu dalam 14 hari terakhir, termasuk transportation.

Ini juga akan berlaku bagi mereka yang telah memperoleh persetujuan masuk sebelumnya dari otoritas Singapura, ujar ketua bersama satgas tersebut, Lawrence Wong.

Sebelumnya Singapura juga telah memblokir pengunjung dari India, yang kini sedang diterpa gelombang kedua tidal wave Corona.

Wong mengatakan, langkah-langkah ini dilakukan setelah “kemunduran” dalam situasi COVID-19 di India, dengan infeksi menyebar ke luar India ke negara-negara sekitarnya.

India sejauh ini mencatat lebih dari 300.000 kasus baru setiap hari.

Khusus untuk India, Kementerian Kesehatan Singapura tidak akan mengizinkan masuknya pemegang visa jangka panjang dan pengunjung jangka pendek dengan riwayat perjalanan dari dan ke India.

Selain itu, semua wisatawan yang memasuki Singapura mulai 3 Mei dengan riwayat perjalanan ke Thailand dalam 14 hari terakhir, akan diharuskan menjalani perintah tetap tinggal di rumah selama 14 hari di sebuah fasilitas khusus. Sebelumnya, mereka diizinkan untuk menjalaninya di tempat tinggal mereka.

Mereka tidak boleh memilih keluar dari fasilitas khusus, meskipun mereka telah memperoleh persetujuan sebelumnya.

Thailand mengalami gelombang ketiga kasus COVID-19, dengan melaporkan sekitar 2.000 kasus baru setiap hari. Lonjakan tersebut telah mendorong penutupan di Bangkok dan daerah-daerah lain.

Dilaporkan bahwa Singapura kini tercatat memiliki 61.145 kasus infeksi Corona, dengan 30 kematian sejauh ini.

Kebohongan Soal Babi Ngepet yang Viral di Kota Depok

Ustaz Adam Ibrahim Minta Maaf soal Babi Ngepet: Iman Lagi Turun

Chen-wei.org – Ustaz Adam Ibrahim ditetapkan sebagai tersangka penyebaran berita bohong atau hoax soal babi ngepet di Sawangan, Depok. Adam Ibrahim mengarang cerita hingga menyiapkan seekor babi untuk menyempurnakan kisahnya itu.

“Tersangka merekayasa dengan memesan secara online seekor babi dari pencinta binatang dengan harga Rp 900 ribu, ditambah biaya ongkos Rp 200 ribu,” jelas Kapolresta Depok Kombes Imran Siregar dalam jumpa pers di kantornya, Jl Margonda Raya, Depok, Kamis (29/4/2021).

Adam Ibrahim bekerja sama dengan 7 warga lainnya. Mereka menyusun skenario hingga mengatur peran masing-masing agar warga percaya soal babi ngepet atau babi jadi-jadian ini.

“Kemudian dirapatkan oleh tim mereka kurang-lebih delapan orang,” katanya.

Mereka mengarang cerita seolah-olah melihat sosok manusia yang tiba-tiba berubah menjadi babi.

“Mereka mengarang seolah-olah ada tiga orang, satu orang turun tanpa menapakkan kaki, dua orang pergi naik electric motor, tiba-tiba satu setengah jam berubah jadi babi. Padahal itu tidak benar,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Adam Ibrahim dkk juga menggambarkan ‘babi ngepet’ ini memakai kalung dan ikat kepala merah.

“Itu semua bohong, tidak benar,” ucapnya.

su babi ngepet ini membuat heboh warga Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok. Babi itu ditangkap warga karena dituduh mencuri uang-uang warga.

Setelah ditangkap, warga kemudian memotongnya dan menguburkannya. Memotong dan menguburkan ‘babi ngepet’ itu juga sudah masuk dalam skenarionya.

“Sudah itu sudah juga. Supaya skenario ini nyambung, dari awal sampai akhir itulah peran-peran orang tertentu sudah diatur dan dikubur di tempat tertentu dan sudah dipindah,” tuturnya.

Belakangan, polisi mengungkap isu soal babi ngepet itu sebetulnya tidak pernah ada. Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan fakta bahwa babi ngepet ini hanya karangan Adam Ibrahim.

Adam Ibrahim terpikir mengarang cerita soal babi ngepet ini karena mendapat laporan adanya sejumlah warga yang sering kehilangan uang. Untuk meredam keresahan warga soal hilangnya uang-uang warga ini, Adam Ibrahim kemudian mengarang soal babi ngepet.