Seorang Ibu 5 Anak di Tangkap Polisi Karena Menjadi Pelaku Teror Bom di Kuningan Jawa Barat

Seorang Ibu 5 Anak Ditangkap Polisi Usai Sebar Teror Bom di Kabupaten  Kuningan | kumparan.com

Chen-wei – Seorang ibu berusia 31 tahun terpaksa diamankan petugas kepolisian usai membuat resah warga di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Perempuan berinisial MN dibawa ke Mapolres Kuningan setelah terbukti menyebarkan pesan berantai berisi teror bom.

Pelaku MN merupakan warga Kecamatan Ciawigebang, Kuningan. Kepada petugas, MN mengaku berprofesi sebagai penjual kue yang sudah memiliki 5 orang anak.

Bahkan salah satu anak pelaku masih berumur dibawah 1 tahun. Pelaku sendiri adalah seorang janda yang tinggal serumah dengan ibunya beserta anak-anak.

Kapolres Kuningan, AKBP Doffie Fahlevi Sanjaya melalui Kasat Reskrim Polres Kuningan, AKP Muhammad Hapid Firmansyah dalam keterangan persnya, Senin (1/11/2021), mengatakan, pelaku MN diamankan petugas setelah terbukti menyebarkan pesan berantai berisi teror bom.

Dalam pesan itu tertulis jika seluruh bank yang berada di wilayah Ciawigebang telah dipasangi bom dan akan segera meledak.

“Pelaku ini menuliskan pesan singkat SMS yang berisikan Selamat Menikmati Kami Segenap Anggota Gerakan Merdeka Raya Telah Menyiapkan Bom di Seluruh Bank Ciawigebang Akan Meledak Pada Pukul 11.00 WIB. Pesan ini dikirim secara arbitrary atau acak ke kontak telepon milik pelaku,” terangnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, pelaku sempat pula mengubungi pihak customer service Bank Mandiri Unit Ciawigebang, kemudian memberitahukan bahwa di Bank Mandiri ada bom. Atas perbuatan pelaku akhirnya membuat kegaduhan di publik karena teror bom tersebut.

“Concept pelaku ini awalnya karena beberapa kali diminta uang oleh ibunya, namun MN ini sudah tidak ada uang lagi, tapi malah ngakunya disimpan di financial institution. Padahal pelaku itu tidak memiliki uang di bank, karena pelaku merasa tertekan dan bingung akibat ibunya memaksa akan pergi ke bank, pelaku berfikir bagaimana caranya agar bank itu tutup,” bebernya.

Dia menjelaskan, pelaku ini kebingungan untuk berkata jujur jika tidak memiliki uang di bank. Namun tiba-tiba muncul ide dari pelaku untuk menghubungi pihak bank terkait, tentang adanya bom yang sudah dipasang.

“Setelah menelpon pihak financial institution dan mengirim sms teror bom secara acak, MN ini justru pergi ke polsek untuk laporan jika menerima sms teror bom. Jadi seolah-olah MN ini menjadi saksi yang menerima sms teror bom, padahal MN justru sebagai pelakunya,” ungkapnya.

Ia menyebut, setelah teror bom itu dilakukan memang semua kantor perbankan di Ciawigebang akhirnya ditutup sementara. Namun setelah diketahui jika teror itu tidak terbukti, akhirnya kantor-kantor bank dibuka kembali.

“Memang pelaku ini ingin agar bank itu tutup, supaya ibunya tidak jadi pergi ke bank. Tapi karena ini sudah membuat gaduh di masyarakat, apalagi soal teror bom, akhirnya kita amankan. Peristiwa ini terjadi pada 22 Oktober 2021, kita amankan pelaku pada Jumat tanggal 29 Oktober 2021 jam 4 dini hari,” imbuhnya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan petugas yakni 1 unit Hp milik pelaku dan foto bukti sms yang dikirim dari nomor yang bersangkutan. Termasuk foto bukti nomor bersangkutan yang pernah di registrasi atau dipakai di HP milik pelaku.

Atas perbuatan pelaku, petugas menjerat dengan pasal 14 ayat (1) nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman paling tinggi 10 tahun, dan atau pasal 27 ayat 4 Jo pasal 45 ayat 4 UU nomor 19 tahun 2016, tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *